Selain Tel Aviv, serangan juga menargetkan sejumlah lokasi strategis lainnya seperti Al-Quds (Yerusalem), pelabuhan Haifa, Be'er Sheva yang merupakan pusat teknologi Israel, serta Gurun Negev.
Pos-pos militer Amerika di kawasan, termasuk yang berada di Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Arab Saudi, juga disebut menghadapi pembalasan intens.
Serangan gelombang ke-61 ini dipicu oleh tewasnya Ali Larijani, tokoh keamanan senior Iran yang gugur bersama putra dan sejumlah stafnya dalam agresi militer AS-Israel di Teheran timur. Larijani disebut sedang dalam perjalanan mengunjungi putrinya ketika serangan terjadi.
Larijani merupakan figur sentral dalam politik dan keamanan Iran. Ia pernah menjabat sebagai ketua parlemen (2008-2020), kepala badan penyiaran negara, serta chief negotiator nuklir Iran pada pertengahan 2000-an.
Di bawah kepemimpinannya di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, ia mengoordinasikan perencanaan pertahanan dan program nuklir sensitif Iran.
Para analis menilai serangan ini merupakan eskalasi signifikan dalam konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Penggunaan rudal dengan hulu ledak ganda seperti Khorramshahr-4 menunjukkan kemampuan militer Iran yang terus berkembang, sekaligus mengirimkan sinyal bahwa Teheran siap terlibat dalam perang berkelanjutan jika tekanan terus berlanjut.