CARAPANDANG - Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 17-18 Maret 2026. Prediksi ini mengemuka di tengah meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang disebabkan oleh eskalasi konflik geopolitik global.
Sejumlah ekonom menilai bahwa turbulensi akibat perang di Timur Tengah, khususnya konflik antara AS-Israel dan Iran, telah mendorong penguatan dolar AS dan memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.
Mengutip data Bloomberg, rupiah sempat melemah 0,38% secara harian ke level Rp 16.958 per dolar AS pada Jumat (13/3/2026).
Menurut laporan Kontan.id, Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menyatakan bahwa tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek akibat faktor eksternal, terutama kenaikan harga minyak yang mendorong ekspektasi inflasi ke depan.
Hal ini membuat BI cenderung untuk mempertahankan suku bunga demi menjaga stabilitas mata uang.
Senada dengan itu, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai bahwa dampak ketegangan geopolitik terhadap perekonomian domestik sejauh ini belum cukup kuat untuk mendorong perubahan kebijakan suku bunga.
Meskipun harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai meningkat, tekanan terhadap stabilitas makroekonomi dinilai masih terjaga.
"Kalau kita lihat BI-Rate masih stabil di 4,75%. Belum ada pressure yang membuat BI-Rate harus naik," ungkapnya.