- Anggur dari Afrika Selatan (sebelumnya 14-20%)
- Hasil tambang, minyak sawit, kacang-kacangan, rempah-rempah, dan produk pertanian lainnya.
Kebijakan ini hanya berlaku untuk produk dalam kuota tarif. Untuk produk di luar kuota, tarif tetap mengacu pada ketentuan Most-Favoured-Nation (MFN).
Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa langkah ini adalah bentuk nyata dari komitmen China untuk membuka pasar domestiknya secara sukarela kepada negara berkembang, khususnya Afrika. Kebijakan ini juga merupakan implementasi dari forum Kerja Sama China-Afrika (FOCAC) dan upaya memperkuat komunitas masa depan China-Afrika yang setara dan saling menguntungkan.
"China menjadi ekonomi utama pertama di dunia yang memberikan perlakuan tarif nol persen secara universal bagi semua negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik," demikian pernyataan resmi Kementerian Perdagangan China.
China telah menjadi mitra dagang terbesar Afrika selama 17 tahun berturut-turut. Data Bea Cukai China menunjukkan:
- Q1 2026: Volume perdagangan China-Afrika mencapai 646,56 miliar yuan (sekitar Rp1.400 triliun), naik 23,7% year-on-year.
- 2025: Total perdagangan mencapai 348,05 miliar dolar AS, naik 17,7% dari tahun sebelumnya.
Ketua Komisi Uni Afrika, Moussa Faki Mahamat, menyambut baik kebijakan ini. "Ini adalah keputusan yang penting dan tepat waktu. Ini adalah langkah yang penuh persaudaraan," ujarnya.