CARAPANDANG – Anggota Komisi XII DPR RI, Syarif Fasha mengatakan bahwa impor bahan bakar minyak (BBM) sulit untuk dihindari, pasalnya produksi minyak nasional masih jauh di bawah kebutuhan konsumsi dalam negeri.
Dia menjelaskan, saat ini produksi minyak mentah Indonesia masih berada di kisaran 600 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.
Menurutnya, selisih kebutuhan tersebut membuat Indonesia masih harus mengandalkan impor BBM untuk memenuhi kebutuhan domestik.
“Dengan produksi minyak kita sekitar 600 ribu barel per hari dan kebutuhan mencapai 1,6 juta barel, maka kekurangannya memang masih harus dipenuhi melalui impor BBM,” katanya di Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.
Selanjutnya dia mengatakan bahwa selama ini impor BBM Indonesia berasal dari berbagai negara, mulai dari kawasan Timur Tengah hingga negara-negara di Asia Timur dan Amerika.
Menurut Legislator Partai NasDem ini, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan impor masih menjadi tantangan dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Meski demikian, ia menilai pemerintah tetap dapat menekan ketergantungan tersebut melalui percepatan pemanfaatan energi alternatif, termasuk mendorong penggunaan kendaraan listrik secara lebih luas di masyarakat.
“Pemanfaatan energi listrik, termasuk kendaraan listrik, bisa menjadi salah satu jalan untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM,”ujarnya.