Mengutip laporan Kontan.id, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Azharys Hardian mengingatkan bahwa eskalasi konflik diprediksi akan memberikan tekanan signifikan pada sektor industri dasar serta sektor yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor. Hal ini terkait dengan posisi China yang mengandalkan sekitar 13 persen dari total impor minyak jalur lautnya dari Iran.
"Gangguan pada pasokan ini akan memicu lonjakan biaya energi dan biaya produksi di China. Sebagai mitra dagang utama Indonesia, perlambatan ekonomi di China akibat tingginya biaya energi akan langsung memukul permintaan ekspor kita," papar Azharys.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menambahkan bahwa memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat bukan lagi sekadar isu politik, melainkan telah masuk ke ranah risiko ekonomi global.
"Pasar langsung merespons dengan pola risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven," ujar Hendra.
Meskipun secara umum IHSG berisiko tertekan, para analis melihat beberapa sektor justru berpotensi diuntungkan dari eskalasi konflik ini. Sektor minyak dan gas serta pertambangan diprediksi menjadi penopang indeks di tengah volatilitas pasar.