Rekan pengamat lainnya, Daryadi, menyebut Indonesia berada di "grup neraka". Namun ia menyoroti masalah internal yang lebih fundamental, yakni stagnasi regenerasi di sektor tunggal putra.
"Seharusnya ada regenerasi berjenjang. Tapi yang terjadi justru ada generasi hilang di bawah Jojo dan Ginting. Jaraknya terlalu jauh, hampir 10 tahun," ujarnya kepada Republika.
Pengamat juga menyoroti kegagalan strategi dan eksekusi di lapangan. Kegagalan Sabar/Reza yang notabene lebih unggul peringkat justru menjadi pukulan terakhir yang memastikan Indonesia tersingkir.
"Secara kualitas mereka seharusnya bisa menang. Tapi faktor mental sangat berpengaruh, apalagi dalam pertandingan beregu dengan tekanan tinggi," kata Daryadi.
Akibat kekalahan ini, Indonesia finis di peringkat ketiga Grup D. Meskipun Thailand, Prancis, dan Indonesia sama-sama mengoleksi dua kemenangan, Indonesia kalah dalam agregat kemenangan partai (9 kemenangan, 6 kekalahan), sementara Thailand memiliki 11 kemenangan dan Prancis 10 kemenangan.
Para pengamat sepakat bahwa ini merupakan alarm keras bagi PP PBSI untuk segera mengevaluasi seluruh elemen tim, mulai dari skuad, pola latihan, hingga strategi ke depan, terutama dengan target ambisius dua emas Olimpiade 2028 yang telah dicanangkan kepengurusan baru di bawah pimpinan Komjen Pol. Muhammad Fadil Imran.