CARAPANDANG - Harga minyak mentah dunia pada perdagangan Senin (9/3) pagi ini melonjak tajam dan menembus level psikologis USD 100 per barel, dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global.
Harga minyak mentah Brent tercatat melesat 23% ke level USD 114,36 per barel, menandai kenaikan harian terbesar sejak setidaknya tahun 1988.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 27% menjadi USD 115,11 per barel.
Data terkini hingga pukul 09.20 WIB menunjukkan harga Brent berada di angka USD 113,68 per barel dan WTI di USD 113,25 per barel.
Pergerakan ini memperpanjang reli ekstrem yang telah berlangsung sejak akhir Februari, di mana Brent tercatat melonjak sekitar 35% dalam sepekan terakhir.
Lonjakan harga dipicu oleh meluasnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang menyebabkan gangguan serius pada jalur pelayaran energi global, terutama di Selat Hormuz.
Sekitar 20% konsumsi minyak dunia biasanya melewati selat sempit tersebut, dan saat ini kapal-kapal tanker minyak enggan melintas karena ancaman keamanan.
Akibatnya, sejumlah produsen minyak utama di Timur Tengah terpaksa mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan yang penuh.
Kepala ekonom JPMorgan, Bruce Kasman, menyatakan bahwa ketergantungan ekonomi global pada arus minyak dan gas dari Selat Hormuz masih sangat tinggi.