CARAPANDANG - Iran merayakan Idulfitri 1447 Hijriah pada Sabtu (21/3/2026) di tengah suasana duka dan konflik berkepanjangan melawan Amerika Serikat serta Israel. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang penuh kehangatan dan kebersamaan, perayaan tahun ini berlangsung secara sunyi dan muram.
Pemerintah Iran menetapkan 1 Syawal jatuh pada Sabtu setelah pengamatan hilal menunjukkan bulan sabit tidak terlihat, sehingga bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari.
Penetapan ini diumumkan oleh kantor Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei yang baru menggantikan ayahnya, Ayatullah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara di awal perang yang oleh Iran disebut sebagai "Perang Ramadan".
Perang yang pecah sejak 28 Februari 2026 ini memasuki hari ke-21 tepat pada malam Idulfitri.
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyatakan bahwa masyarakat Iran tidak dapat merayakan Idulfitri tahun ini akibat serangan yang telah menewaskan ratusan warga sipil, termasuk 250 anak-anak.
"Walaupun ini merupakan situasi hari-hari bulan suci Ramadan dan sebentar lagi adalah Idulfitri, tetapi masyarakat Iran tidak bisa merayakan momen penting dan momen Islami ini," ujar Boroujerdi dalam pertemuan dengan Ketua Umum Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla di Jakarta belum lama ini.
Tradisi Idulfitri yang biasanya diwarnai dengan mengenakan pakaian baru, mengunjungi tempat-tempat suci, makan bersama keluarga besar, dan pemberian hadiah kepada anak-anak kini terhenti.