Kita hidup di zaman di mana citra seringkali dianggap lebih penting daripada realita. Kita hidup di era “Kesalehan Visual”. Kita merasa telah menjadi pemenang hanya karena kita berhasil mengunggah foto berbuka puasa yang indah, atau karena kita berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an secara statistik namun hati tak tersentuh. Kita merasa sudah juara hanya karena berhasil melewati 30 hari tanpa makan dan minum secara fisik.
Namun, ketahuilah, standar keberhasilan di sisi Allah SWT bukanlah pada “lelahnya fisik”, melainkan pada “diterimanya amal”. Allah SWT telah memancangkan sebuah standar baku dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 27: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.”
Ayat ini, adalah ayat yang membuat punggung para Salafus Shalih (generasi terdahulu yang saleh) bergetar ketakutan. Mereka bukan orang-orang yang malas beribadah, namun mereka adalah orang-orang yang paling khawatir jika ibadah mereka yang menggunung itu ternyata hanya menjadi debu yang beterbangan karena tidak diterima oleh Allah.
Coba kita bayangkan sosok Abdullah bin Umar ra. Suatu ketika, seorang pengemis datang kepadanya. Beliau kemudian memerintahkan anaknya untuk memberikan satu dinar kepada pengemis itu. Saat sang pengemis pergi, anaknya berkata dengan tulus, “Semoga Allah menerima amalmu wahai Ayah.”
Mendengar doa anaknya, Ibnu Umar tidak lantas tersenyum bangga. Beliau justru menjawab dengan nada yang penuh perenungan: