Beranda Sosok Kisah Menggetarkan: Bung Hatta, Sepatu Bally dan Sebuah Harga Diri

Kisah Menggetarkan: Bung Hatta, Sepatu Bally dan Sebuah Harga Diri

Lahir di Bukittinggi, 1902. Seorang cendekia, proklamator, wakil presiden, dan satu gelar yang mungkin paling pas menggambarkan laku hidupnya: Bapak Koperasi Indonesia

0
Kisah Menggetarkan: Bung Hatta, Sepatu, dan Sebuah Harga Diri

Setelah Bung Hatta wafat pada 14 Maret 1980, keluarga menemukan selembar guntingan iklan koran tentang sepatu merek Bally yang tersimpan rapi di dalam dompetnya. Iklan tersebut menjadi "saksi bisu" dari kerinduan sederhana beliau terhadap sepatu impian yang tak sempat dibeli hingga akhir hayatnya—meski secara posisi, beliau sebenarnya bisa saja membelinya dengan mudah.

Dan yang bikin kisah ini makin perih? 

Konon menurut sejumlah kisah yang beredar sepatu itu akhirnya datang. Warnanya hitam mengkilap, elegan, merek Bally. Sepatu yang sama—atau paling tidak mirip—dengan yang Bung Hatta pernah impikan puluhan tahun lalu. Tapi ia tak sempat mencobanya. Sepatu itu tiba di rumah ketika Bung Hatta sudah terbujur kaku. Ia wafat dalam kesederhanaan, dalam diam, tanpa riuh sorotan. Sepatu itu diletakkan di samping jenazahnya—bukan untuk dikenakan, melainkan untuk menebus sebuah janji yang tak pernah sempat ditepati: janji pada diri sendiri bahwa kelak, jika mampu, ia akan membelinya. Anak-anaknya baru bisa membelikan sepatu Bally itu setelah beliau wafat. Sepasang sepatu yang akhirnya diletakkan diam di samping jenazahnya. Tak pernah dipakai. Tak pernah diinjakkan ke tanah. 

Bung Hatta: Harga Diri yang Tak Pernah Padam

  • Tags

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here