CARAPANDANG - Di luar stasiun kereta cepat di Bandung, kota keempat terbesar di Indonesia, Ricky (29), seorang pengemudi layanan transportasi online, mengantre untuk menjemput penumpang selanjutnya.
"Saya datang ke sini beberapa kali sehari untuk menjemput dan mengantar penumpang," ujarnya kepada Xinhua, seraya menyatakan bahwa Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), dikenal sebagai "Whoosh", menjadikan Bandung mudah dijangkau dari Jakarta, yang berjarak hanya 150 kilometer.
Data resmi menunjukkan bahwa per 4 Juni, Whoosh, yang merupakan proyek kereta cepat luar negeri pertama yang sepenuhnya menggunakan sistem, teknologi, dan komponen industri perkeretaapian China, telah menangani lebih dari 15,88 juta perjalanan penumpang.
Namun, Bandung menawarkan lebih dari sekadar kemajuan transportasi modern. Bagi banyak orang, signifikansi sejati kota itu bermula dari sebuah pertemuan bersejarah pada 71 tahun yang lalu.
Terletak di Jalan Asia-Afrika yang ramai di Bandung, sejumlah bangunan era kolonial berdiri dengan elegan di bawah terik matahari tropis. Benak seseorang dapat dengan mudah terbawa kembali ke masa lalu pada 1955, saat para perwakilan dari 29 negara Asia dan Afrika berkumpul di Bandung untuk menghadiri Konferensi Bandung yang bersejarah.
Saat itu, puluhan ribu warga berbaris di jalan dengan penuh antisipasi saat para pemimpin berjalan bersama dengan bangga, membuka babak baru solidaritas dan dukungan timbal balik.