“Eh benar, saya mengambil Mamay masih hidup di longsoran. Jadi Mamay hilang. Tinggal saya sama Heri,” kenangnya.
Latihan Minus 30 Derajat hingga Tidur Bergantung di Tebing
Kegagalan pada 1985 tidak membuat tim menyerah. Sebelum kembali ke Swiss setahun kemudian, seluruh anggota menjalani persiapan yang jauh lebih matang. Mereka mengikuti tes psikologi, meningkatkan latihan fisik, hingga beradaptasi dengan suhu ekstrem menggunakan cold storagebersuhu minus 30 derajat Celsius.
“Kita masuk ke cold storage di Jakarta. Selama 24 jam kita didinginkan minus 30 derajat Celsius. Kita keluar ke Jakarta kulit kita pecah semua,” ungkap Harry.
Tak hanya itu, seluruh logistik juga dipersiapkan sendiri. Makanan dibuat dalam bentuk bubuk agar lebih ringan dibawa, kemudian ditimbang sesuai kebutuhan masing-masing dan dikemas menggunakan mesin pres. Persediaan tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan selama hampir tiga pekan.
Saat pendakian dimulai, tim menerapkan metode Alpine Style, yaitu membawa seluruh perlengkapan sejak awal tanpa kembali ke base camp. Strategi ini membuat beban menjadi lebih berat, tetapi perjalanan lebih efisien.
Selama sekitar 13 hari, mereka hidup di dinding Eiger. Tidur dilakukan dengan tempat tidur gantung yang dipasang di tebing, sedangkan air diperoleh dari lelehan es yang dimasak terlebih dahulu.