Padahal, tidak semua "melihat" itu harus dengan mata. Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata, "Saya mengerti maksud Anda"? Dia tidak benar-benar melihat dengan mata, melainkan dengan pikirannya. Dia memvisualisasikan ide, memahami suatu kesimpulan, atau menangkap kebenaran. Begitu juga dengan Tuhan. Mungkin Tuhan adalah jenis wujud yang tidak bisa ditangkap oleh mata, melainkan oleh pikiran dan akal kita.
Untuk memahami keterbatasan ini, mari kita ingat kisah tiga orang buta dan gajah. Masing-masing hanya bisa menyentuh satu bagian: ada yang menyentuh belalai, telinga, atau gading. Karena keterbatasan itu, mereka semua memiliki gambaran yang berbeda dan tidak utuh tentang gajah. Lalu, bagaimana dengan Tuhan? Kita meyakini Tuhan begitu agung dan tak terbatas. Bagaimana mungkin mata kita yang terbatas bisa memvisualisasikan wujud-Nya? Jika pun Tuhan menampakkan Diri-Nya dalam bentuk cahaya, apakah cahaya itu adalah seluruh wujud-Nya?
Kisah Nabi Musa dalam Surah Al-A'raf ayat 143 memberikan kita pelajaran yang mendalam. Atas desakan kaumnya, Musa memohon kepada Tuhan, "Tampakkanlah Diri-Mu kepadaku." Tuhan pun menjawab, "Kamu tidak akan dapat melihat-Ku. Namun, lihatlah gunung itu. Jika ia tetap tegak di tempatnya, maka kelak kamu akan melihat-Ku."