CARAPANDANG - Konflik berskala penuh antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran memasuki hari ketiga pada Senin (2/3/2026) dengan eskalasi signifikan di kawasan. Serangan balasan dan aksi militer baru melebar hingga ke Lebanon, Irak, dan sejumlah negara Teluk, memicu kekhawatiran akan pecahnya perang regional yang lebih luas.
Operasi militer gabungan AS-Israel yang dinamai "Operation Epic Fury" terus berlanjut dengan gempuran ke sejumlah kota di Iran.
Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa operasi ini dapat berlangsung selama empat hingga lima pekan ke depan.
Di sisi lain, Iran melalui pejabat senior keamanan nasionalnya, Ali Larijani, menolak keras kemungkinan negosiasi dengan AS dan menuduh Washington memicu instabilitas kawasan.
Konflik pada hari ini melebar setelah Hizbullah, kelompok militan yang didukung Iran di Lebanon, meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel sebagai bentuk pembalasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Menanggapi serangan tersebut, Angkatan Udara Israel (IDF) melancarkan serangan balasan ke sejumlah target di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, yang merupakan kantong kekuatan Hizbullah. Ledakan besar dilaporkan mengguncang ibu kota Lebanon itu.
Di Irak, milisi Syiah yang dikenal dengan nama Saraya Awliya al-Dam mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone yang menargetkan pasukan AS di Bandara Internasional Baghdad, Senin (2/3/2026) waktu setempat.