Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menolak tekanan AS dengan menyatakan bahwa Inggris tidak akan terseret ke dalam perang yang lebih luas dan menekankan setiap pengerahan pasukan harus memiliki mandat hukum yang jelas.
Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, menambahkan bahwa misi angkatan laut EU memang tidak dirancang untuk beroperasi di Selat Hormuz.
Irlandia menjadi negara terbaru yang bergabung dalam penolakan tersebut. Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin menegaskan negaranya tidak memiliki kapasitas militer ofensif.
"Dan jelas itu bukan sesuatu yang ada dalam agenda kami," ujarnya.
Polandia dan Belgia turut menegaskan fokus mereka pada diplomasi dan stabilitas kawasan. Perdana Menteri Belgia Bart De Wever bahkan secara khusus menyatakan negaranya tidak akan bergabung dalam serangan apa pun yang dilakukan bersama AS dan Israel.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada hari yang sama mengklaim bahwa banyak negara bersiap membantu AS membuka kembali Selat Hormuz, namun enggan menyebutkan nama-nama negara tersebut dengan alasan khawatir mereka akan menjadi sasaran Iran.
Selat Hormuz menjadi pusat perhatian pasar energi global sejak Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penutupan selat tersebut untuk sebagian besar kapal di tengah serangan AS-Israel ke Iran yang dimulai pada 28 Februari lalu.