Direktur PNFI, I Gusti Made Ardana, menegaskan bahwa pendidikan kesetaraan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pendidikan formal. Karena itu, pendekatan pembelajaran yang digunakan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan para warga belajar. "Digitalisasi dalam pendidikan kesetaraan bukan sekadar memindahkan bahan ajar dari buku ke layar gawai. Warga belajar Program Paket A, Paket B, dan Paket C memiliki kebutuhan yang khas. Mereka membutuhkan materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, aplikatif, serta mampu mendukung kemandirian ekonomi dan sosial," ujar I Gusti Made Ardana dalam sosialisasi "Partisipasi Semesta dalam Penyusunan Konten Interaktif Muatan Pemberdayaan dan Keterampilan untuk Pendidikan Kesetaraan", Rabu (3/6).
Menurutnya, kebutuhan konten pembelajaran yang beragam dan berkualitas tidak mungkin dipenuhi oleh pemerintah sendiri. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk menghadirkan materi yang lebih kaya, relevan, dan sesuai dengan realitas yang dihadapi warga belajar di berbagai daerah. "Pengembangan konten pendidikan adalah kerja bersama. Kami mengundang seluruh pihak untuk menyumbangkan ide, kreativitas, dan karya terbaiknya agar warga belajar pendidikan kesetaraan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan relevan dengan kebutuhan zaman," katanya.