"Bukan Presiden yang menggaji rakyat. Rakyatlah yang membiayai Presiden dan pemerintahannya," tegas Isnur, membalik logika pertanyaan Prabowo tentang sumber pendanaan para pengkritik.
Politikus PDI Perjuangan (PDIP), Mohamad Guntur Romli, menilai narasi "Londo Ireng" adalah taktik populisme klasik yang membelah opini publik secara simplistis. Ia menyebutnya sebagai bentuk intimidasi simbolis untuk mendelegitimasi substansi kritik tanpa perlu membantah data.
"Stigmatisasi ini bukan sekadar retorika antikolonial, melainkan bentuk intimidasi simbolis untuk mendelegitimasi substansi kritik," ujar Guntur.
Ia menekankan bahwa mengawasi pemerintah adalah patriotisme sejati, bukan pengkhianatan.
Hingga berita ini diturunkan, Istana Kepresidenan belum memberikan tanggapan resmi atas gelombang kritik yang menyasar pernyataan Presiden Prabowo.