Dari sisi domestik, tingginya harga minyak meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Selain itu, menipisnya surplus neraca perdagangan juga menjadi faktor pendorong pelemahan rupiah.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai bahwa pelemahan rupiah ke sekitar Rp 17.900 mencerminkan bahwa pasar melihat tekanan ini sebagai gabungan antara tekanan global dan domestik, bukan lagi sekadar faktor musiman.
Kendati tertekan, sejumlah analis melihat peluang penguatan terbatas bagi rupiah dalam jangka pendek. Sentimen positif datang dari stabilisasi pasar global, masuknya aliran devisa, serta meningkatnya harapan terhadap potensi perpanjangan gencatan senjata AS-Iran yang dapat mengurangi ketidakpastian geopolitik.
Selain itu, penerapan aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) diharapkan dapat membantu meningkatkan pasokan dolar AS di dalam negeri.
Adapun rupiah dapat kembali menguat ke kisaran Rp 17.600 hingga Rp 17.750 jika tiga syarat terpenuhi: harga minyak turun karena kemajuan perdamaian AS-Iran, arus modal asing kembali masuk ke instrumen surat berharga negara (SBN) dan SRBI, serta pemerintah memberi sinyal fiskal yang meyakinkan.