Bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pemerintah disarankan hadir dengan memberikan kemudahan akses kredit mikro agar mereka dapat beralih ke kompor induksi, atau dengan menyediakan produk LPG nonsubsidi dalam ukuran yang lebih kecil sehingga harganya lebih terjangkau.
Terkait dampak penyesuaian harga, Iwa menilai kenaikan harga LPG 12 kilogram yang mengikuti mekanisme pasar global ini tidak akan terlalu mengguncang perekonomian makro.
Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), bobot LPG nonsubsidi dalam keranjang inflasi nasional hanya sekitar 0,18 persen, sehingga kontribusi lonjakan harganya terhadap inflasi diproyeksikan sangat kecil. Angka ini jauh di bawah komoditas seperti beras (3,8 persen) dan bensin (4 persen).
"Kalau harga naik 10 persen, kontribusinya ke inflasi hanya sekitar 0,018 persen. Jadi relatif kecil," ucapnya.
Meski demikian Iwa juga mengingatkan adanya potensi second round effect, terutama pada sektor UMKM kuliner.
"Kenaikan biaya bisa diteruskan ke harga makanan. Misalnya, harga pecel ayam naik Rp1.000. Ini yang nanti terasa, tapi biasanya bertahap dalam 1-2 bulan," tutur Iwa Garniwa.