Dalam wawancara dengan CNBC, ia mengaku hubungan keduanya tetap baik meski sesekali terjadi perbedaan pandangan.
"Terkadang kami memiliki perbedaan taktis, seperti dalam keluarga terbaik sekalipun. Kami selalu menemukan cara untuk menyelesaikannya, dan kami melakukannya sebagai teman baik," ujar Netanyahu.
Sejumlah analis menilai kebocoran percakapan tersebut memiliki dimensi strategis.
Asia Times melaporkan bahwa kebocoran ini justru sengaja dilakukan untuk mengirim sinyal kepada Iran bahwa AS masih memiliki kendali nyata atas tindakan militer Israel.
Iran sebelumnya mengancam akan membekukan negosiasi dengan AS sebagai protes atas serangan Israel ke Lebanon. Setelah berita kemarahan Trump bocor, pembicaraan diplomatik disebut kembali berlanjut.
Sementara itu, pengamat kubu konservatif AS seperti Mark Levin mendesak agar FBI menyelidiki kebocoran tersebut, menilai hal itu melanggar hukum federal dan justru menguntungkan rezim Iran.