CARAPANDANG.COM - Menjelang waktu makan di distrik Eyüp, Istanbul, asap tipis naik dari cerobong-cerobong besar Mihrişah Valide Sultan İmareti (Dapur Umum Mihrişah Valide Sultan) sementara para juru masak bergerak cepat di antara kazan raksasa berisi pilaf, sup, dan roti hangat yang segera dibagikan.
Di halaman berkubah dengan deretan revak, antrean penerima manfaat—warga miskin, lansia, tunawisma, juga pengungsi—menunggu tertib membawa kupon, sementara kendaraan distribusi bersiap mengantar porsi ke rumah-rumah.
Pemandangan itu membuat dapur umum ini terasa seperti sisa yang masih hidup dari Istanbul Kekhatifahan Utsmani: bukan museum, melainkan amal yang terus bekerja, sebuah ritme yang nyaris tak terputus selama 224 tahun, di bawah bayang-bayang kawasan suci Eyüp Sultan. Sejumlah laporan menyebut dapur ini menyalurkan sekitar 2.000 hingga 3.000 porsi makanan panas per hari kepada kelompok rentan.
Warisan Wakaf dari Ibu Sultan
Makanan dimasak di dapur bertiga kubah besar dengan sembilan cerobong asap, lalu dibagikan melalui jendela khusus ke penerima seperti fakir miskin, yatim piatu, dan musafir; semua dana operasional yang dikeluarkan dari wakaf berkelanjutan selama lebih dari dua abad.