Serangan udara Israel terus mengguncang Lebanon selatan hingga Sabtu (20/6), meskipun Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah telah tercapai sehari sebelumnya.
Israel sebagai sekutu AS harus memiliki komitmen untuk menjalankan kesepatan tersebut. Sebab, Israel selama ini kerap melanggar berbagai kesepakatan yang telah dibuat.
Orang-orang mencari barang-barang yang dapat digunakan kembali di tengah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Nabatieh, Lebanon selatan, pada 19 Mei 2026. (Carapandang/Xinhua/Taher Abu Hamdan)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (kanan) menyambut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih di Washington DC, AS, pada 11 Februari 2026. (Carapandang/Xinhua/GPO/Avi Ohayon)
Iran mengumumkan penghentian serangan terhadap Israel, namun memperingatkan akan adanya respons yang "menghancurkan" jika serangan Zionis ke Lebanon terus berlanjut
Serangan Iran ini merupakan aksi balasan setelah Israel mengebom pinggiran selatan Beirut, Lebanon, yang menurut klaim Tel Aviv menargetkan pusat komando Hizbullah.
Irlandia memberlakukan larangan kunjungan ke negara tersebut terhadap para menteri sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir dan Bezalel Smotrich, menurut Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin.
Kelompok Hizbullah pada Jumat (5/6) mengaku telah melancarkan sejumlah serangan, termasuk dengan rudal, terhadap pasukan Israel di dekat Kastil Beaufort di Lebanon selatan.
Rapat mendesak ini digelar atas permintaan Prancis menyusul keberhasilan pasukan Israel merebut Kastel Beaufort, benteng bersejarah yang berada di dalam wilayah teritorial Lebanon.