CARAPANDANG - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun atau setara 18,2 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp3,15 kuadriliun. Capaian ini tumbuh 10,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Sementara itu, belanja negara terealisasi sebesar Rp815 triliun atau 21,2 persen dari pagu APBN, tumbuh 31,4 persen secara tahunan. Dengan realisasi pendapatan dan belanja tersebut, APBN mencatat defisit sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pemerintah: Defisit Sesuai Desain, Bukan Hal Mengejutkan
Seperti dilaporkan sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI pada awal bulan April kemarin telah mengedukasi dan menegaskan bahwa defisit tersebut merupakan bagian dari desain APBN yang memang dirancang defisit.
"Jadi ketika ada defisit, masyarakat jangan kaget. Memang anggaran kita desain defisit. Kalau belanja dibuat lebih merata sepanjang tahun, seharusnya kuartal pertama ini defisitnya lebih besar dibandingkan tahun lalu," ujar Purbaya.
Purbaya menjelaskan bahwa pola defisit di awal tahun merupakan strategi fiskal pemerintah untuk mendistribusikan belanja secara lebih merata sepanjang tahun, sehingga dampak ekonominya dapat dirasakan lebih signifikan sejak awal periode anggaran.