Fenomena ini terjadi saat kapsul Orion milik NASA melintasi sisi jauh Bulan dalam manuver lunar flyby, momen puncak perjalanan bersejarah yang dimulai sejak peluncuran pada 1 April lalu.
Gerhana dijadwalkan berlangsung mulai sekitar pukul 20.35 EDT atau 07.35 WIB pada 7 April.
Sayangnya, fenomena ini eksklusif untuk para astronaut Artemis II dan tidak bisa disaksikan dari permukaan Bumi, termasuk di Indonesia. Gerhana ini hanya terlihat dari posisi kapsul Orion yang berada jauh di balik Bulan.
Yang membuat kejadian ini istimewa adalah durasi dan skalanya, karena kapsul Orion jauh lebih dekat ke Bulan dibanding pengamat di Bumi, sehingga Bulan tampak jauh lebih besar dari perspektif para astronaut.
Akibatnya, Matahari akan tertutup sepenuhnya selama sekitar 53 menit atau hampir tujuh kali lebih lama dibanding durasi maksimum gerhana total yang bisa disaksikan dari permukaan Bumi.
"Dari sudut pandang kita, Bulan dan Matahari di langit tampak berukuran hampir sama," kata Kelsey Young, pemimpin operasi sains penerbangan Artemis dari NASA pada Sabtu (4/4), dikutip dari Space.
Namun, kapsul Orion disebut memiliki sudut pandang yang sangat berbeda.
"Bulan tampak jauh, jauh lebih besar dari perspektif mereka dibanding dari sini di Bumi," tambahnya.
NASA tidak menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Para astronaut diminta melakukan observasi ilmiah selama gerhana berlangsung, khususnya mengamati korona Matahari, lapisan terluar atmosfer bintang yang biasanya tidak bisa diamati karena tertutup cahaya Matahari yang menyilaukan.
"Kami telah menyertakan panduan bagi mereka untuk mendeskripsikan fitur-fitur yang bisa mereka lihat di korona Matahari," kata Young.
Pengamatan ini diharapkan membantu ilmuwan memahami proses-proses di korona dari sudut pandang yang belum pernah tersedia sebelumnya.
Young menekankan bahwa mata manusia memiliki kemampuan unik yang tidak dimiliki kamera robotik, salah satunya mampu menangkap nuansa warna dan bayangan yang halus.
Ia mencontohkan temuan Apollo 17, di mana astronaut memperhatikan regolith berwarna oranye yang mengungkap bahwa aktivitas vulkanik di Bulan berlangsung lebih baru dari perkiraan sebelumnya.
Bagi astronaut Jeremy Hansen dari Kanada, fenomena ini adalah bonus yang tak terduga.
"Itu sesuatu yang tadinya tidak kami perkirakan akan kami alami," katanya.
"Tapi karena kami meluncur pada 1 April, kami sekarang bisa menyaksikannya. Cukup menakjubkan," imbuhnya.
Cuma Bisa Dilihat Astronaut Artemis II: Besok ada Gerhana Matahari Total
Empat astronaut misi Artemis II akan menyaksikan Gerhana Matahari Total dari sisi jauh Bulan pada Senin malam (6/4) waktu Amerika atau Kamis (7/4) pagi waktu Indonesia