Inggris dan Jerman turut bergabung dalam mengutuk operasi militer ini. Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menyerukan agar gencatan senjata yang telah disepakati sejak April dihormati.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat mengajukan proposal baru untuk meredakan situasi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dilaporkan telah melakukan pembicaraan terpisah dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Netanyahu.
Dalam peta jalan yang diusulkan Washington, Hizbullah diminta menghentikan semua serangan terhadap Israel, dan sebagai imbalannya Israel akan menahan diri dari eskalasi di Beirut.
Seorang pejabat senior AS yang berbicara dengan syarat anonim menyatakan bahwa langkah ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi de-eskalasi bertahap.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat serangan Israel sejak awal Maret telah menewaskan lebih dari 3.412 orang . Sementara itu, militer Israel melaporkan 25 tentaranya tewas dan mengklaim telah mengeliminasi 900 anggota Hizbullah sejak gencatan senjata dimulai pada 17 April lalu.
Gencatan senjata yang dimediasi AS tersebut jarang dipatuhi oleh kedua belah pihak, dengan masing-masing saling menuduh melakukan pelanggaran.
Situasi kemanusiaan di Libanon semakin memprihatinkan menyusul perintah evakuasi massal dari militer Israel ke wilayah selatan Sungai Zahrani. Serangan udara Israel di dekat sebuah rumah sakit di Tyre juga dilaporkan melukai 13 staf medis.