Beranda Kesehatan Fenomena Eco-Anxiety Meningkat, Anak Muda Cemas Dengan Perubahan Iklim

Fenomena Eco-Anxiety Meningkat, Anak Muda Cemas Dengan Perubahan Iklim

Sebanyak 88 persen responden merasakan perubahan iklim terjadi di sekitar mereka, dan 67 persen menyatakan perubahan tersebut telah mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

0
Ilustrasi

CARAPANDANG - Istilah eco-anxiety atau kecemasan lingkungan semakin marak terdengar di tengah meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap krisis iklim. Data terkini menunjukkan fenomena ini telah menjadi isu kesehatan mental yang nyata.

Menurut laporan State of India's Environment 2026 yang dirilis oleh Centre for Science and Environment (CSE) dan Down To Earth pada Februari 2026, survei terhadap 300 responden berusia 16 hingga 25 tahun menemukan bahwa 57 persen dari mereka mengaku "cemas" terhadap kondisi lingkungan saat ini.

Sebanyak 88 persen responden merasakan perubahan iklim terjadi di sekitar mereka, dan 67 persen menyatakan perubahan tersebut telah mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

American Psychiatric Association (APA) mendefinisikan eco-anxiety sebagai ketakutan kronis akan malapetaka lingkungan.

Meskipun belum dikategorikan sebagai gangguan klinis tersendiri, kondisi ini dapat memicu sensasi fisik dan emosional yang serupa dengan jenis kecemasan lainnya, seperti gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan perasaan tidak berdaya.

Mengutip Republika (November 2025), di Indonesia, survei yang dilakukan Karbon Hero menunjukkan angka yang lebih tinggi, yakni 89 persen anak muda mengaku takut dan tidak berdaya menghadapi masa depan bumi.

Psikolog klinis Maria Hanafie menjelaskan bahwa kecemasan ini muncul ketika individu menyadari ancaman lingkungan yang nyata namun merasa kemampuan mereka untuk merespons terbatas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here