CARAPANDANG - Pemerintah Iran secara resmi menyatakan akan membuka jalur pelayaran aman di Selat Hormuz selama periode gencatan senjata dua pekan dengan Amerika Serikat dan Israel, dengan syarat seluruh kapal yang melintas harus dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataannya pada Rabu (8/4/2026) menegaskan bahwa perjalanan aman melalui jalur vital energi dunia tersebut hanya dimungkinkan melalui koordinasi dengan militer Iran serta dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis yang ada.
Kesepakatan ini tercapai setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui penundaan serangan terhadap Iran selama dua minggu, hanya 90 menit sebelum tenggat waktu yang ia berikan berakhir.
Trump membenarkan bahwa AS telah menerima proposal 10 poin dari Iran yang dinilainya sebagai dasar yang dapat dijalankan untuk negosiasi.
"Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan, di mana mereka meminta saya menunda penggunaan kekuatan destruktif, dan dengan syarat Iran menyetujui pembukaan penuh, segera, dan aman atas Selat Hormuz, saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu," demikian pernyataan Trump di media sosial.