Di sisi lain, sebagai orang yang aktif berinteraksi dengan warga, ia juga sering mendengar persoalan lain yang tidak kalah mendesak. Ada anak-anak yang kesulitan membayar biaya sekolah hingga keluarga yang terkendala biaya pengobatan.
Keluhan warga soal pendidikan dan kesehatan membuat Ananto mencari cara agar bantuan sosial dapat terus berjalan tanpa bergantung pada donasi uang. Menurut Ananto, sampah yang selama ini dianggap tidak berguna sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi jika dipilah dan dikelola dengan baik.
Pada 2013, bersama sejumlah warga termasuk Triono, ia kemudian memperkenalkan Gerakan Shadaqah Sampah. Konsepnya cukup sederhana. Warga diminta menyumbangkan sampah yang masih bernilai jual, seperti botol plastik, kardus, kertas, dan kaleng. Sampah kemudian dipilah, dijual, lalu hasilnya digunakan untuk program sosial.
Dua Tahun Hanya Dikerjakan Lima Orang
Awalnya, gagasan itu tidak langsung diterima. Banyak warga mempertanyakan mengapa sampah bisa disebut sebagai sedekah.
"Darimana nilai sedekahnya, wong itu sampah," katanya.
Keraguan masyarakat membuat gerakan tersebut berjalan lambat pada masa-masa awal.
Ananto pernah bercerita bahwa selama sekitar dua tahun pertama, hanya lima orang yang secara rutin terlibat mengelola sampah. Mereka memilah tumpukan botol plastik, kardus, dan barang bekas lainnya hingga sore hari setiap pekan.