Jika pertumbuhan memberikan kejutan positif, sisi inflasi justru menjadi perhatian utama. Data BEA menunjukkan bahwa tekanan harga melonjak drastis akibat konflik Iran-AS yang memicu kenaikan harga energi global.
Indeks harga PCE (Personal Consumption Expenditures), yang menjadi acuan utama Federal Reserve, melesat menjadi 4,5% pada kuartal I, dibandingkan dengan 2,9% di kuartal sebelumnya.
Bahkan, inti inflasi (Core PCE) yang tidak termasuk makanan dan energi juga meroket ke level 4,3%.
Para ekonom menyebut kondisi ini sebagai "guncangan minyak" baru. Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 50% sejak pecahnya konflik pada akhir Februari, menembus level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan membuat harga bensin di AS melambung.
Kombinasi antara pertumbuhan yang solid dan inflasi yang membara ini menempatkan Federal Reserve (The Fed) dalam posisi yang sulit. Para analis meyakini bahwa The Fed tidak akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.
"Kenaikan harga energi ini akan membatalkan semua kemajuan yang telah dibuat dalam menekan inflasi," ujar Michael Pearce, Kepala Ekonom AS di Oxford Economics.
Sementara itu, ekonom lain dari Ameriprise Financial memperkirakan inflasi dapat menyentuh puncaknya di atas 3,5% pada kuartal kedua jika harga minyak tetap tinggi.