Keputusan The Fed kali ini juga menjadi perhatian besar pasar karena hasil pemungutan suara terbilang sangat terbelah. The Fed memutuskan menahan suku bunga dengan suara 8 berbanding 4, menjadi keputusan paling terpecah sejak 1992. Tiga pejabat bahkan menolak panduan bahwa bank sentral masih memiliki kecenderungan untuk melonggarkan kebijakan.
Akibatnya, ekspektasi pemangkasan suku bunga AS pada tahun ini semakin memudar. Pelaku pasar kini bahkan mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada April 2027, dengan probabilitas sekitar 55%, naik tajam dari kisaran 20% sebelum keputusan The Fed.
Kondisi ini membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas. Ketika prospek suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, dolar AS cenderung tetap menarik di mata investor global.
Selain faktor The Fed, pasar juga masih mencermati kebuntuan diplomasi untuk menyelesaikan konflik Iran. Presiden AS Donald Trump disebut tengah membahas cara meredam dampak dari kemungkinan blokade pelabuhan Iran selama berbulan-bulan bersama perusahaan minyak.
Harga minyak pun melonjak karena pasar khawatir gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah dapat berlangsung lebih lama. Situasi ini membuat investor kembali mencari aset aman, termasuk dolar AS. dilansir cnbcindonesia.com