CARAPANDANG - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa pemerintahannya akan mengambil alih uranium yang diperkaya milik Iran jika kedua negara berhasil mencapai kesepakatan diplomatik. Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan di Hamilton, Kanada, pada Senin (23/3/2026), di tengah meningkatnya tekanan militer dan diplomasi antara Washington dan Teheran.
Ketika ditanya mengenai mekanisme pengambilan aset nuklir Iran, Trump menjawab singkat, "Sangat mudah. Jika kita memiliki kesepakatan dengan mereka, kita akan pergi ke sana dan mengambilnya sendiri."
Presiden AS itu juga mengklaim bahwa pejabat Iran sangat ingin mencapai kesepakatan dan menyebut kemungkinan pertemuan langsung antara pejabat kedua negara akan segera terjadi.
Pernyataan Trump ini muncul setelah berbagai laporan media mengungkapkan bahwa pemerintahan AS tengah menyusun opsi operasi militer rahasia untuk mengamankan stok uranium Iran. Menurut laporan CBS News yang dikutip pada 21 Maret 2026, diskusi di kalangan pejabat AS berfokus pada pengerahan Komando Operasi Khusus Gabungan (Joint Special Operations Command), pasukan elit yang biasa ditugaskan untuk misi kontra-proliferasi paling sensitif.
Skenario operasi tersebut dinilai sangat kompleks dan berisiko tinggi. Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, memperingatkan bahwa misi tersebut akan sangat menantang.