Peristiwa ini menunjukkan efek berantai bencana yang klasik, kata Yao Tandong, seorang akademisi di CAS sekaligus ketua tim ekspedisi ilmiah Dataran Tinggi Qinghai-Tibet kedua Tiongkok.
Menurut para ahli, setelah gletser tersebut runtuh, bukan hanya es yang meluncur turun. Puing-puing es dan batuan dalam jumlah besar meluncur menuruni alur sungai pegunungan, terus mengumpulkan material dan momentum seiring pergerakannya ke arah hilir.
"Semakin jauh meluncur ke hilir, semakin besar daya rusaknya dan semakin nyata pula risiko sekundernya," kata Yao.
"Tepatnya, ini merupakan bencana berantai yang terbentuk melalui evolusi berkelanjutan dari longsoran es di dataran tinggi menjadi aliran puing berkecepatan tinggi dan tanah longsor," kata Guo Zhaocheng, seorang ahli dari Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok.
MENGAPA DAMPAKNYA SANGAT PARAH
Ouyang Chaojun, seorang ahli bahaya pegunungan dan keselamatan rekayasa di CAS, merangkum tiga faktor utama di balik bencana tersebut, yakni skala longsoran es-batuan awal yang besar dan berasal dari ketinggian ekstrem; transformasinya yang cepat menjadi aliran puing berkecepatan tinggi yang tetap memiliki kecepatan dan kedalaman besar; serta konsentrasi penduduk dan bangunan setempat di bantaran sungai yang datar, yang membuat warga terpapar langsung oleh aliran tersebut.