Ancaman terhadap Selat Hormuz bukan sekadar skenario terburuk. Laporan menunjukkan bahwa meskipun selat tersebut masih terbuka, beberapa perusahaan minyak dan perdagangan besar telah menghentikan sementara pengiriman minyak, bahan bakar, dan gas alam cair melalui jalur tersebut.
Jika Iran benar-benar memblokade selat ini, harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel.
Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih, menegaskan bahwa pasar belum sepenuhnya memperhitungkan kemampuan Iran untuk mengganggu lalu lintas dengan ranjau dan rudal jarak pendek yang mereka miliki.
Di tengah situasi yang memanas ini, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) menggelar pertemuan virtual pada Minggu (1/3/2026).
Kelompok yang dikenal sebagai "Voluntary Eight" (V8) yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia dilaporkan menyetujui untuk meningkatkan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari mulai April.
Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menstabilkan pasar dan mengimbangi potensi kenaikan harga akibat konflik, serta untuk mengembalikan pangsa pasar yang sempat tergerus.
Namun, para analis meragukan efektivitas langkah ini.
Homayoun Falakshahi dari Kpler memperkirakan peningkatan produksi riil hanya akan sekitar 80.000 hingga 90.000 barel per hari, dan kapasitas cadangan yang tersedia sebagian besar hanya dimiliki Arab Saudi.