"Konten sejarah saat ini menjamur dan mudah kita temui di kanal seperti YouTube atau Instagram, namun tidak sedikit pula yang kurang akurat dalam menyajikan data. Contohnya, ketika membahas sebuah peninggalan sejarah, masih banyak kreator yang belum memahami kapan membedakan masa pendudukan VOC dan pendudukan kolonial pemerintah Belanda. Hal ini sekilas samar, tapi tentu bisa menyesatkan bagi penonton awam," ungkap Ian (43), seorang penikmat konten sejarah yang juga berprofesi sebagai jurnalis.
"Produksi sebuah konten terdiri dari banyak faktor, namun sebagus apa pun kualitas gambar, suara, dan hal penunjang lain, ketika saya menyadari konten tersebut tidak akurat dalam menyajikan data, maka biasanya tak lagi timbul minat untuk menonton habis konten tersebut," ujarnya berbagi pengalaman.
Sedangkan dari sisi kreator, Sonny menyampaikan bahwa tantangan terbesar menurutnya terbagi menjadi dua. Pertama adalah manajemen waktu dalam menyeimbangkan pekerjaan penuh waktu dengan proses riset, produksi, dan penyuntingan konten. Kedua adalah bagaimana merangkum kisah sejarah yang panjang dan kompleks menjadi video singkat yang menarik tanpa menghilangkan nilai serta esensi sejarahnya. Hal inilah yang membuat faktor akurasi dan validitas tersebut menjadi ujian sesungguhnya.