Feature: Mengupas Fenomena Sosial pada Gelaran Piala Dunia 2026 Oleh Prabowo Destyan
Gelaran akbar Piala Dunia 2026 resmi bergulir di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Meski tim nasional Indonesia gagal melaju ke Piala Dunia dan tak pernah menjadi tuan rumah, gaung hajatan empat tahun sekali itu tetap terasa kuat di dalam negeri.
Xinhua berbincang dengan akademisi/peneliti sekaligus pakar psikologi sosial dan perilaku masyarakat dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Haidar Buldan Thontowi Ph.D., yang pernah menjabat direktur Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) UGM, guna mengulas beragam fenomena sosial yang kerap melanda masyarakat sebagai dampak euforia si kulit bundar.
IDENTITAS SOSIAL
Ketika ditanya mengapa banyak masyarakat Indonesia bersikap militan dalam membela tim negara lain meski tak memiliki pertalian dan hubungan darah secara langsung, Buldan memaparkan jawaban menarik yang terkait dengan identifikasi sosial.
"Tentu ada beberapa identitas sosial yang saling beririsan, misalnya karena sama-sama berasal dari Asia, maka tim Jepang dan Korea Selatan dinilai memiliki kesamaan identitas. Hal lainnya mungkin faktor kesamaan agama, sehingga negara yang mayoritas beragama Islam seperti Uzbekistan atau Turkiye juga sangat mungkin memunculkan kesamaan identitas bagi penonton Indonesia," ujar Buldan ketika berbincang dengan Xinhua pada Jumat (19/6).