CARAPANDANG – Lapangan pergaulan remaja hari ini sedang tidak baik-baik saja. Belakangan, masyarakat dihebohkan dengan fenomena anak laki-laki yang berperilaku, berbicara, hingga berpenampilan feminin—atau yang di media sosial kerap dijuluki dengan istilah "boti".
Menyikapi fenomena ini, umat Islam dituntut untuk cerdas. Di satu sisi, kita wajib menjaga syariat agar anak laki-laki tumbuh sesuai fitrahnya sebagai rijal (lelaki sejati). Namun di sisi lain, menghadapi anak yang telanjur terkontaminasi lingkungan memerlukan strategi dakwah dan pola asuh yang tepat, bukan sekadar amarah yang justru menjauhkan mereka dari agama.
Meniru karena Lingkungan, Bukan Melulu Penyimpangan Sejak Lahir
Psikolog sekaligus dosen UIN Palangka Raya, Ari Pamungkas, menegaskan bahwa fenomena laki-laki yang tampak feminin ini tidak bisa langsung dicap sebagai gangguan permanen atau orientasi seksual tertentu. Seringkali, ini adalah masalah pengaruh sosial dan krisis identitas.
Menurut Ari, ada banyak faktor yang membentuk perilaku tersebut, di antaranya:
- Pola asuh dan pengalaman masa kecil.
- Arus media sosial dan figur (influencer) salah yang ditiru.
- Kebutuhan remaja untuk diakui dan diterima dalam kelompok tertentu.
“Pada masa anak dan remaja, proses meniru perilaku orang lain cukup kuat. Anak bisa meniru gaya bicara, ekspresi tubuh, atau kebiasaan dari orang yang sering dilihat dan dianggap menarik,” ujar Ari.