Dalam psikologi, perilaku ini tidak disebut "menular", melainkan adanya pengaruh sosial yang kuat. Ada anak yang sekadar ikut-ikutan tren, mencari perhatian, atau sedang tersesat dalam mencari jati diri.
Ketegasan yang Manusiawi: Seni Mendidik Sesuai Syariat
Islam melarang keras laki-laki menyerupai wanita (tasyabbuh). Namun, bagaimana cara memutus rantai peniruan ini?
Ari Pamungkas menekankan pentingnya peran orang tua untuk meluruskan kembali fitrah sang anak. Nilai agama, budaya, dan norma sosial harus ditegakkan secara kokoh di dalam rumah. Hanya saja, proses pembinaan tersebut harus dilakukan tanpa hinaan, ejekan, apalagi kekerasan fisik yang destruktif.
“Pendekatan yang lebih tepat adalah berbicara secara pribadi, mendengarkan alasannya, memahami lingkungan pergaulannya, lalu memberi nasihat secara tegas tetapi tetap manusiawi,” jelasnya.
Jika orang tua langsung menghakimi, mencaci, atau mengusir anak, mental mereka akan jatuh. Dampak psikologis seperti rendah diri, kecemasan akut, hingga gangguan kepribadian justru akan membuat anak semakin mencari perlindungan ke komunitas yang salah.
Evaluasi Kamar Anak Kita: Bangun Benteng Emosional
Melarang anak bergaul saja tidak cukup jika rumah tidak menjadi tempat yang nyaman. Orang tua Muslim hari ini harus bersaing ketat dengan algoritma media sosial yang merusak mentalitas generasi muda.
Guna mengantisipasi hal ini, Tips untuk para orang tua disarankan: