CARAPANDANG - Umat Muslim di Palestina merayakan Idulfitri 1447 Hijriah pada Jumat (20/3/2026) di tengah suasana duka dan kehancuran. Untuk pertama kalinya sejak 1967, Israel menutup Masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur dan melarang pelaksanaan salat Id di kompleks suci tersebut.
Di Jalur Gaza, ratusan warga melaksanakan salat Idulfitri di ruang terbuka dan di antara reruntuhan bangunan, karena lebih dari 1.100 masjid dari total sekitar 1.240 masjid di Gaza rusak berat atau hancur total akibat serangan Israel sejak Oktober 2023.
Otoritas Israel menutup akses ke Masjid Al Aqsa sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026. Penutupan ini berlangsung selama 21 hari berturut-turut hingga Idulfitri.
Keputusan tersebut telah disampaikan kepada Wakaf Islam, lembaga yang bertanggung jawab atas pengelolaan kompleks Masjid Al Aqsa. Israel membatasi jumlah staf Wakaf yang boleh bertugas tidak lebih dari 25 orang dalam satu shift.
Akibat kebijakan ini, warga Palestina terpaksa melaksanakan salat Id di sekitar Kota Tua Yerusalem Timur, sedekat mungkin dengan kompleks Al Aqsa. Kawasan Kota Tua yang biasanya ramai dipadati warga Palestina menjelang Idulfitri kini tampak sepi menyerupai kota mati.
Ratusan aparat kepolisian Israel dilaporkan menutup akses jalan menuju masjid. Dalam sejumlah kejadian, polisi menggunakan pentungan, granat kejut, dan gas air mata terhadap jemaah yang berkumpul di luar tembok Kota Tua.