Direktur Jaringan LSM Palestina, Amjad al-Shawwa, menyatakan bahwa anak-anak di Gaza merayakan Idulfitri tahun ini untuk ketiga kalinya secara berturut-turut di bawah kondisi kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Sebagian besar keluarga di Gaza kehilangan sumber pendapatan akibat kehancuran ekonomi dan infrastruktur, membuat banyak keluarga tidak mampu memberikan kebahagiaan paling sederhana pun bagi anak-anak mereka pada momen keagamaan," ujar al-Shawwa.
Ia menambahkan bahwa anak-anak Gaza tidak hanya kehilangan aspek materi, tetapi juga lingkungan sosial alami yang mereka butuhkan untuk tumbuh kembang.
Taman bermain hancur, sekolah berubah menjadi tempat penampungan pengungsi, dan anak-anak kehilangan kesempatan bermain serta berinteraksi sosial.
Gubernur Yerusalem mengecam penutupan Al Aqsa sebagai eskalasi berbahaya dan serangan langsung terhadap kebebasan beragama. Pihaknya menyatakan langkah ini bertujuan untuk memaksakan realitas Yudaisasi baru dan mengisolasi masjid dari lingkungan Palestina dan Islamnya.
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla menyampaikan keprihatinan mendalam atas penutupan Masjid Al Aqsa oleh otoritas Israel dan mendesak agar masjid tersebut segera dibuka kembali.
"Penutupan ini sangat kami sesalkan. Kami menuntut agar Masjid Al Aqsa dibuka kembali, terlebih dalam momentum Ramadhan dan Idul Fitri," ujar JK.