Tasawuf juga mengajarkan pentingnya cinta Ilahi (mahabbah). Cinta ini bukan sekadar emosi, tetapi kesadaran total bahwa seluruh hidup berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ketika cinta kepada Allah tumbuh, maka cinta kepada dunia menjadi proporsional dan tidak berlebihan. Seseorang tidak lagi mencintai sesuatu karena kepemilikan, tetapi karena ia melihat tanda-tanda kebesaran Allah di dalamnya.
Dalam perjalanan tasawuf, seorang hamba melewati berbagai maqam (tingkatan spiritual) seperti taubat, sabar, syukur, tawakal, dan ridha. Setiap maqam bukan sekadar teori, tetapi latihan batin yang membentuk karakter manusia menjadi lebih matang. Misalnya, tawakal bukan berarti pasif, tetapi menyerahkan hasil setelah usaha maksimal. Ini membangun mental yang kuat sekaligus hati yang tenang.
Tasawuf juga sangat menekankan akhlak. Seorang yang mengaku sufi tetapi buruk akhlaknya, sejatinya belum memahami tasawuf. Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan utama dalam tasawuf praktis. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung” (QS. Al-Qalam: 4). Ayat ini menunjukkan bahwa spiritualitas sejati selalu terhubung dengan akhlak yang luhur dalam kehidupan sosial.