Signifikansi krisis ini tidak hanya terletak pada volatilitas pasar jangka pendek, tetapi juga pada kemungkinan bahwa guncangan energi yang berkepanjangan dapat mengubah ekspektasi inflasi, prospek suku bunga, serta penetapan harga aset global.
CARAPANDANG.COM, LONDON -- Harga minyak melonjak saat pasar global dibuka pada Senin (16/3) di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa eskalasi ketegangan di Timur Tengah dapat mengganggu pasokan energi dan berdampak pada pasar keuangan global.
Minyak mentah Brent, sebagai acuan internasional, naik 2,5 persen menjadi 105,61 dolar AS (1 dolar AS = Rp16.934) per barel pada perdagangan awal Asia, sementara patokan AS West Texas Intermediate naik hampir 3 persen menjadi 101,52 dolar AS. Brent telah naik lebih dari 40 persen sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari lalu.
Kenaikan harga ini mencerminkan kekhawatiran bahwa gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz, salah satu jalur transit minyak terpenting di dunia, serta rentetan serangan terhadap infrastruktur energi regional, berpotensi menekan pasokan energi global.
DAMPAK GUNCANGAN ENERGI
Para analis menilai signifikansi dari krisis ini tidak hanya terletak pada volatilitas pasar jangka pendek, tetapi juga pada kemungkinan bahwa guncangan energi yang berkepanjangan dapat mengubah ekspektasi inflasi, prospek suku bunga, serta penetapan harga aset global.