CARAPANDANG - Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga menembus level psikologis 90 dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir.
Kenaikan harga ini memicu kekhawatiran baru akan terjadinya inflasi global yang berkepanjangan dan ancaman stagflasi, terutama setelah data ketenagakerjaan AS dirilis lebih lemah dari perkiraan.
Pada penutupan perdagangan Jumat (6/3) waktu setempat, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April melonjak 12,21% menjadi 90,90 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei melesat 8,52% menjadi 92,69 dolar AS per barel.
Secara mingguan, harga WTI mencatatkan kenaikan terbesar sepanjang sejarah sejak kontrak berjangka ini diluncurkan pada 1983, dengan akumulasi kenaikan mencapai 35,63%.
Lonjakan harga ini dipicu oleh terganggunya pasokan global akibat perang yang melumpuhkan Selat Hormuz, jalur vital tempat sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melintas.
Serangan Iran terhadap fasilitas energi di Arab Saudi dan Qatar, serta ancaman Teheran yang menutup selat tersebut, telah menghentikan hampir seluruh lalu lintas kapal tanker di kawasan itu.