Proses negosiasi menuju kesepakatan ini sempat mengalami dinamika. Pada Desember 2025, negosiasi dikabarkan sempat menemui kendala terkait komitmen Indonesia dalam menghilangkan hambatan non-tarif dan desakan AS untuk memasukkan klausul "poison pill" yang memungkinkan Washington membatalkan perjanjian jika Indonesia menandatangani kesepakatan serupa dengan negara saingan, seperti China.
Namun, pada akhir Januari, Airlangga mengumumkan bahwa seluruh masalah substantif telah disepakati kedua belah pihak.
Penandatanganan ini awalnya ditargetkan selesai pada akhir Januari 2026, namun mundur ke pertengahan Februari karena penyesuaian jadwal kedua pemimpin.
Kesepakatan tarif ini dinilai sangat krusial mengingat AS merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia dan penyumbang surplus terbesar neraca perdagangan Indonesia sepanjang tahun 2025.
Hingga berita ini diturunkan, publik menanti hasil final dari pertemuan antara Prabowo dan Trump di Washington pekan depan.