Selama menjadi mahasiswa, Astin tidak hanya mengejar prestasi akademik. Ia aktif membantu pembinaan Olimpiade Kebumian di berbagai daerah. Bahkan, ia pernah mengajar siswa-siswa di Sumatra Utara. Kegiatan mengajar itu menjadi caranya membalas bantuan yang pernah ia terima.
“Waktu itu saya sempat mengajar sampai ke Sumatra Utara. Rasanya senang sekali bisa berbagi pengalaman dan melihat adik-adik itu semangat belajar. Itu juga cara saya berterima kasih, karena dulu saya pun dibantu banyak orang,” tuturnya.
Delapan Tahun Menimba Ilmu di Jepang
Setelah lulus dari ITB pada 2014, Astin memperoleh beasiswa Monbukagakusho atau MEXT dari Pemerintah Jepang. Ia melanjutkan studi magister dan doktor di Tohoku University, salah satu kampus unggulan ilmu kebumian di Jepang.
“Awalnya saya tidak menyangka bisa sampai ke Jepang. Waktu itu niatnya hanya ingin lanjut kuliah, dan ternyata Allah memberi jalan lewat beasiswa ini. Saya bersyukur sekali bisa belajar di tempat dengan fasilitas dan lingkungan riset yang luar biasa,” ujarnya.
Selama di Jepang, ia mendalami penelitian mengenai interaksi antara batuan dan air pada suhu serta tekanan tinggi. Penelitian ini berkaitan dengan dua bidang penting.
Pertama, energi panas bumi atau geothermal. Energi ini berasal dari panas alami yang tersimpan di dalam bumi dan menjadi salah satu sumber energi bersih.