Pada tahun 1979, rahasia ini terungkap. Dunia terkejut. Belanda menuduh Abdulkadir melakukan “spionase”. ‘‘Israel’’, kanker dunia yang selalu mendikte Amerika, melayangkan protes keras. Namun, Abdul Qadir Khan tidak gentar. Ia benar-benar ingin Pakistan memiliki senjata nuklirnya sendiri. Ia mengecam para penjajah yang mengklaim dominasi dunia dan penindasan mereka terhadap bangsa-bangsa. “Apakah para Penjahat ini berpikir mereka adalah penjaga dunia?” ujarnya.
Usaha Menghalangi
Perjalanan Dr. Abdul Qadeer Khan dalam membangun kekuatan nuklir Pakistan tidaklah mulus. Sejak awal 1970-an, ia menghadapi berbagai halangan dari negara dan institusi dunia. Di Belanda, tempat ia bekerja di perusahaan FDO yang bermitra dengan konsorsium nuklir URENCO, Khan dituduh melakukan spionase karena mengakses desain sentrifugal, hingga akhirnya divonis bersalah in absentia tahun 1983 meskipun kemudian dibatalkan.
Amerika Serikat juga menjadi penghalang utama dengan menekan Islamabad lewat sanksi ekonomi dan diplomasi internasional. Menurut penulis Adrian Levy dan Catherine Scott-Clark dalam bukunya Deception: Pakistan, the United States, and the Global Nuclear Weapons Conspiracy (2007), Washington “menggunakan segala cara—dari tekanan finansial, sabotase jalur suplai, hingga operasi rahasia—agar Pakistan tidak menjadi kekuatan nuklir.”