"Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan supply dari non-Middle East. Misalnya kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika beberapa, dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain," ungkap Airlangga.
Saat ditanya mengenai peluang impor minyak mentah dari Rusia, Airlangga menyatakan bahwa pemerintah masih memantau negara-negara pemasok yang memungkinkan untuk dijadikan sumber impor alternatif.
"Ya tentu kita monitor mana yang tersedia dan mana yang bisa diimpor," jelasnya.
Airlangga menjelaskan bahwa setidaknya terdapat tiga sektor utama yang paling terdampak dari memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Selain pasokan minyak, gangguan juga diproyeksikan terjadi pada sektor transportasi logistik dan pariwisata.
"Ya (berdampak ke ekonomi), pertama yang terganggu kan pasti suplai minyak. Yang kedua transportasi logistik. Dan yang ketiga tentunya kita melihat turisme akan sangat terganggu," ujar Airlangga.
Terkait dampak konflik terhadap kinerja ekspor nasional, Airlangga menilai masih akan sangat bergantung pada durasi konflik yang terjadi.
Pemerintah memilih untuk terus memantau perkembangan sebelum mengambil kebijakan lanjutan.
"Nanti kita monitor dulu," tegasnya.