Asal-usulnya dapat ditelusuri dari pasar di negara-negara yang rantai pasokannya masih kurang berkembang. Sebagai contoh, ketika bagian dasar sebuah drone rusak, sering kali tidak ada cara cepat untuk mendapatkan suku cadang penggantinya, sehingga memunculkan kebutuhan bagi para pengguna untuk mencetak suku cadang mereka sendiri menggunakan teknologi cetak 3D.
Para inovator di Shenzhen menangkap peluang ini. Tahun lalu, majalah TIME memasukkan mesin cetak H2D dari perusahaan rintisan (startup) asal Shenzhen, Bambu Lab, ke dalam daftar Penemuan Terbaik (Best Inventions) untuk tahun tersebut. Sejak itu, H2D kian populer di berbagai platform belanja, seperti Amazon. Para pendiri Bambu Lab sendiri sebelumnya merupakan karyawan perusahaan raksasa drone China, DJI.
Data statistik menunjukkan bahwa "Empat Naga Kecil" (Four Little Dragons) di industri pencetakan 3D konsumen asal Shenzhen, yakni Bambu Lab, Creality, Anycubic, dan Elegoo, menguasai 94 persen pangsa pasar global untuk mesin berharga kurang dari 2.500 dolar AS.
"Karena mereka tidak memiliki jaringan manufaktur, e-commerce, dan logistik yang kuat seperti di China, mereka tidak bisa mendapatkan pengiriman suku cadang pada hari yang sama atau keesokan harinya. Bagi mereka, mesin cetak 3D kelas konsumen tetap menjadi alat terbaik untuk memenuhi kebutuhan mendesak," ujar Chen Bo, wakil presiden Elegoo.