Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pasien dengan kadar erythritol dalam darah tertinggi memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi mengalami kejadian kardiovaskular mayor (MACE), seperti serangan jantung atau stroke, dalam kurun waktu tiga tahun.
Dr. Hazen, yang juga merupakan kepala co-section of Preventive Cardiology di Cleveland Clinic, mengingatkan bahwa penderita obesitas, diabetes, atau sindrom metabolik yang justru paling sering direkomendasikan untuk mengonsumsi pemanis buatan, mungkin menjadi kelompok yang paling rentan terhadap risiko ini.
"Itu adalah peringatan tentang bagaimana makanan olahan kita (khususnya yang keto dan bebas gula) secara tidak sengaja dapat menyebabkan risiko atau bahaya, terutama pada subkelompok subjek yang paling rentan," tegas Dr. Hazen, seperti dikutip dari laporan MDEdge.
Apa Itu Erythritol dan Di Mana Bisa Ditemukan?
Erythritol termasuk dalam golongan senyawa yang disebut polyol atau gula alkohol. Senyawa ini memang ditemukan secara alami dalam buah-buahan seperti semangka, melon, pir, dan anggur, serta makanan fermentasi seperti kecap dan keju.
Namun, erythritol yang digunakan sebagai pemanis dalam produk komersial umumnya diproduksi secara massal melalui fermentasi jagung.
Pemanis ini memiliki rasa yang mirip dengan gula, hampir tidak mengandung kalori, dan tidak menyebabkan lonjakan gula darah, sehingga populer di kalangan penderita diabetes dan pelaku diet.