CARAPANDANG.COM, PBB -- Konflik di sepanjang perbatasan Sudan dengan negara-negara tetangga serta meningkatnya serangan drone memperbesar ancaman terhadap warga sipil dan mengganggu operasi bantuan, kata badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (25/3).
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) menyatakan bahwa bentrokan terbaru di sepanjang dan di sekitar perbatasan Sudan dengan Chad dan Ethiopia telah mengakibatkan korban sipil serta memaksa warga mengungsi dari rumah mereka.
OCHA menyatakan bahwa sejumlah mitra kemanusiaan melaporkan serangan drone pada Senin (23/3) mengakibatkan korban sipil di Sudan selatan.
Kantor tersebut menyatakan bahwa di Negara Bagian Nil Biru, Sudan timur, kekerasan di dekat perbatasan Ethiopia mengancam akses ke kota Kurmuk, Sali, dan Dindraw, di selatan Ed Damazine, ibu kota negara bagian itu. Warga sipil pun terpaksa mengungsi ke Ed Damazine maupun menyeberang ke Ethiopia.
Pasukan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) Sudan pada Selasa (24/3) menyatakan telah mengambil alih kota strategis Kurmuk, setelah pertempuran "sengit" dengan Angkatan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Forces/SAF) dari pemerintah.
OCHA menyatakan bahwa kebakaran di lokasi pengungsian di Sudan meningkat di tengah kepadatan berlebihan, suhu tinggi, serta penggunaan bahan tempat tinggal yang mudah terbakar.