Beranda Kesehatan Peter Pan Syndrome: Ketika Dewasa Tak Selalu Berarti Siap Menjadi Dewasa

Peter Pan Syndrome: Ketika Dewasa Tak Selalu Berarti Siap Menjadi Dewasa

Istilah Peter Pan Syndrome pertama kali dipopulerkan oleh psikolog Amerika Serikat, Dr. Dan Kiley, melalui bukunya The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up yang terbit pada 1983.

0
Ilustrasi

Selain itu, perubahan sosial, seperti perpanjangan masa pendidikan, kesulitan ekonomi, dan budaya populer yang memuja gaya hidup bebas, juga dinilai berkontribusi pada munculnya fenomena ini.

Dalam praktiknya, individu dengan kecenderungan Peter Pan Syndrome dapat mengalami hambatan dalam relasi romantis maupun karier.

Mereka mungkin tampak karismatik, menyenangkan, dan kreatif, tetapi kesulitan mempertahankan stabilitas hidup jangka panjang.

Kondisi ini juga bisa berdampak pada pasangan atau keluarga yang harus memikul tanggung jawab lebih besar.

Para ahli menegaskan bahwa kedewasaan bukan semata soal usia, melainkan kemampuan regulasi emosi, kemandirian, serta kesiapan mengambil tanggung jawab.

Pendekatan seperti terapi psikologis, konseling, dan penguatan keterampilan hidup (life skills) dinilai dapat membantu individu mengembangkan kedewasaan emosional.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tumbuh dewasa merupakan proses yang kompleks, dipengaruhi faktor biologis, psikologis, dan sosial.

Meski bukan gangguan medis resmi, Peter Pan Syndrome tetap menjadi istilah yang relevan untuk menggambarkan dinamika kedewasaan di era modern.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here